Saat Slank digugat para anggota DPR karena lirik lagu gosip jalanan yang menjadikan mereka tidak terhormat lagi, Al-Amin malah membuat lirik lagu Slank menjadi sebuah keniscayaan. Gosip jalanan Slank merupakan ungkapan hati rakyat yang menderita karena ulah para penguasa. Penguasa hanya bisa bikin UUD…ujung-ujungnya duit. Al-Amin hanya satu dari banyak nama yang mungkin berkontribusi dalam lagu Slank. Gosip jalanan bukan sekedar isapan jempol.
Negeri ini telah mencapai puncak penderitaan. Kasus kelaparan, anak kurang gizi, pengangguran, kenaikan harga, korupsi, pendidikan mahal, kriminalitas, kebejatan moral, pornografi, AIDS terus melaju naik tanpa henti. Bencanapun tak luput menghantui negeri ini; banjir, luapan lumpur, tanah longsor, gempa silih berganti. Keadaan ini diperparah dengan penguasa yang silih berganti menampakkan kerakusannya.
Paradikma kesuksesan dalam sistem kapitalisme juga berpeluang menciptakan penguasa yang rakus, yakni apabila seseorang memiliki harta yang banyak dan atau jabatan yang tinggi di tengah-tangah masyarakat maka dia telah sukses. Sehingga saat berkuasa adalah saat yang tepat untuk menambah pembendaharaan harta dan peluang memperoleh kekuasaan yang lebih tinggi. Kondisi inilah yang menjadi warna penguasa negeri.
Kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki para penguasa kita menjadi angin segar untuk terjadinya skandal ujung-ujungnya duit. Padahal yang diperlukan seorang penguasa untuk disayang dan diridhoi oleh rakyatnya adalah bersikap sebagai penguasa “Al-Amin”. Penguasa yang melayani rakyat bukan yang dilayani rakyat.
Al-Amin yang berarti “dapat dipercaya” merupakan modal utama seorang penguasa. Dia juga merupakan salah satu komponen yang dapat mewujudkan Good Governence dan Clean Government. Tanpa “Al-Amin” seorang penguasa akan sulit menjadi pelayan rakyat. Yang terjadi adalah terima suap lagi suap lagi.
Kekuasaan merupakan amanah, penguasanya harus dapat dipercaya. Dalam Islam jabatan pemerintahan bukanlah pristise, kesempatan dan lahan subur untuk memperoleh kekayaan sebesar-besarnya. Jabatan tidak lebih dari suatu amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak.
Interaksi antara penguasa dan rakyat tidak lepas dari dorongan ketakwaan terhadap Allah Swt. Pancaran ketakwaan inilah yang menjadikan seorang muslim, baik penguasa maupun rakyat untuk tetap berada dalam hukum-hukum Allah. Sehingga melakukan suap pun menjadi terlarang bagi dia karena tindakan tersebut diharamkan oleh sang pencipta manusia.
Rakyat telah banyak melihat para penguasa yang rakus. Keadaan ini tidak sekedar gejala individual, tetapi sudah merupakan penyakit sistemik. Sistem kapitalisme sudah membuktikan tidak mampu mengatasinya. Penguasa yang Al-Amin pun bisa jadi terseret ke dalam sistem yang buruk. Keadaan ini akan tetap tumbuh subur bila tidak segera berpaling dan mengganti sistem yang ada. Dan sistem yang dapat mewujudkan Good Governence dan Clean Government hanyalah sistem Islam.
Ketaatan kepada Allah dan konsekuensi orang beriman berarti melaksanakan seluruh syariat Islam dalam aspek kehidupan baik dalam pengurusan negara, ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pergaulan. Negeri ini sudah wajib memberikan ruang dan kesempatan kepada syariat Islam untuk diterapkan dalam kehidupan. Dan sudah menjadi kewajiban untuk meninggalkan sistem yang menjauhkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Dimana Islam hanya dipakai dalam hal ibadah tidak dalam hal yang lainnya. Padahal Islam mempunyai aturan yang sempurna dan paripurna. Karena dia merupakan suatu ideologi yang shohih.
Syariat Islam akan mampu membebaskan penguasa dari sifat rakus tak terkontrol dan membebaskan rakyat dari kesulitan hidup. Karena hanya aturan Allah-lah yang lebih mulia dan terbaik untuk mengatur manusia dan menyelesaikan permasalahan yang melilitnya. Umat sangat perlu penguasa yang “Al-Amin” bukan hanya sekedar nama. Saatnya menghentikan gosip jalanan ini dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah di dalam Khilafah ’ala Minhaj Nubuwah. Wallahu’alam bi ash-shawab.
Dessy mahliani
Arman berkata,
Juli 17, 2008 @ 12:03 am
Gmana ya, mnjelang pmilu 2009 partai politik berjubel, tpi kader partai yg punya sderet kasus; amoral,kkn,narkoba, adem2 sja, mudah2n rakya indonsia mkin pntar,dwasa dlm mnentukan pilihan, jgn smpai kntong tmbah bolong sebaliknya kntong wong gede tbh dlm