Nurul Jannah
Negeri ini telah mencapai puncak penderitaan !. Kasus kelaparan, anak kurang gizi, pengangguran, kenaikan harga, korupsi, pendidikan mahal, kriminalitas, kebejatan moral, pornografi, AIDS terus melaju naik tanpa henti. Bencanapun tak luput menghantui negeri ini, banjir, luapan lumpur, tanah longsor, gempa silih berganti.
Perubahan sudah terjadi, namun kita jangan sampai menutup mata apakah perubahan menuju ke kondisi yang lebih baik ataukah sebaliknya.. Sudah bisa dipastikan perubahan yang terjadi di negeri ini semakin kearah kondisi yang memprihatinkan. Hari kehari harga-harga barang pokok terus meroket. Mulai harga minyak goreng sampai sayur mayur. Ribuan pedagang kecil gulung tikar.
Negeri ini juga terkenal dengan sumberdaya alam yang berlimpah. Namun telah berubah menjadi sebuah negeri yang penduduknya kelaparan dan generasi penerusnya menderita gizi buruk. Alih-alih sejahtera dengan sumberdaya alam yang berlimpah, malah sumberdaya alam ini telah menjadikan negeri ini menjadi sapi perahan para pemilik modal. Privatisasi, pengurangan subsidi, utang luar negeri, sampai eksploitasi kekayaan alam atas nama investasi menjadi kebijakan pemerintah. Yang paling menyedihkan, Indonesia lebih kapitalis dari pada negara kapitalis sendiri. Menyedihkan bukan?.
Pada saat yang sama, pendidikan juga tidak berpihak pada warga miskin. Pendidikan semakin tinggi semakin mahal. Dunia ini sudah dipandang sebagai usaha yang sangat menguntungkan. Meningkatnya pengangguran pun dialami, kriminalitas semakin beragam bentuknya.
Kebebasan yang diagung-agungkan sejak era reformasi ternyata tidak memberikan perbaikan moral rakyat negeri ini. Seks bebas merajalela, pornografi pornoaksi bertebaran di mana-mana dan berkembang pesat karena belum ada UU yang melarangnya. Setali tiga uang dengan penyakit yang dibawa karena kemerosotan moral, AIDS telah menjadi penyakit yang mewabah. Obat belum ditemukan, penderitanya sudah laksana fenomena gunung es.
Keprihatinan nasional yang kita rasakan tidak lain disebabkan oleh syariat Islam yang diabaikan dalam kehidupan. Sampai kapan kita akan mempertahankan ideologi selain Islam untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Tidakkah cukup keprihatinan ini membuat kita berpaling dan meninggalkannya. Hanya dengan kembali ke syariat Islam, segala permasalahan dan keprihatinan nasional berakhir.
Ketaatan kepada Allah dan konsekuensi orang beriman berarti melaksanakan seluruh syariat Islam dalam aspek kehidupan baik dalam pengurusan negara, ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pergaulan. Negeri ini sudah wajib memberikan ruang dan kesempatan kepada syariat Islam untuk diterapkan dalam kehidupan. Dan sudah menjadi kewajiban untuk meninggalkan demokrasi yang hanya menjadi alat legalisasi penjarahan bagi para konglomerat dan kapitalis asing.
Syariat Islam akan mampu membebaskan manusia dari kesulitan hidup. Karena hanya aturan Allah-lah yang lebih mulia dan terbaik untuk mengatur manusia dan menyelesaikan permasalahan yang melilitnya. Saatnya menghentikan keprihatinan ini dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah di dalam Khilafah ’ala Minhaj Nubuwah. Wallahu’alam bi ash-shawab.