Oleh : Reda Ari Yantie*
Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) kian dekat. Untuk SMA dan sederajat UAN akan dimulai tanggal 22 April ini. Mulai dari siswa-siswa kelas VI SD, kelas III SMP dan SMA, orang tua mereka, guru-guru, kepala sekolah sampai seluruh elemen pendidikan pun harap-harap cemas. Bagaimana tidak, anak atau siswa mereka harus berjibaku untuk meraih nilai yang minimal sama dengan standar kelulusan tahun ini. Himbauan kepada para orang tua pun disampaikan oleh Dewan Pendidikan agar para orang tua membimbing, mengawasi belajar anak-anak mereka serta mendoakan mereka agar lulus.
Tahun ini berdasarkan Kepmendiknas No. 34 tahun 2007 nilai rata-rata siswa yang lulus minimal 5,25 dengan tidak ada angka dibawah 4,25. Atau 5,00 tetapi rata-rata nilai yang lain 6,00. Setiap tahun, standar nilai UN selalu dinaikkan dengan harapan mutu lulusan juga akan lebih baik, dan kualitas pendidikan Indonesia juga akan meningkat.
Standar nilai UN yang makin ditingkatkan, soal yang dirasa makin sulit sampai jumlah mata pelajaran UN yang ditambah rentan membuat siswa-siswa stress. Sebab UN adalah penentu keberhasilan mereka menimba selama 6 tahun (SD) atau 3 tahun (SMP, SMA). Beragam upaya ditempuh agar siswa-siswa lulus dalam ujian. Bimbingan belajar atau les, baik yang dilaksanakan oleh sekolah atau pribadi (les privat) serta pelaksanaan try out yang berkali-kali. Sehingga setidaknya para siswa telah mendapatkan gambaran tentang UN yang sesungguhnya. Dengan semua usaha tadi diharapkan siswa-siswa siap menghadapi UN dan mampu lulus. Sehingga akhirnya siswa bahagia, orang tua pun bangga, para guru, Kepala Sekolah sampai Dinas Pendidikan juga puas.
Namun, masih dipertanyakan korelasi kualitas lulusan dengan nilai UN. Bijakkah hanya menjadikan nilai UN sebagai standar kelulusan ? Jika kelulusan siswa hanya dinilai dari nilai UN saja yang hanya aspek kognitif saja, bagaimana dengan aspek afektif dan psikomotoriknya? Terkadang dijumpai fakta pada tahun-tahun sebelumnya bagaimana seorang siswa yang rajin, pintar dan baik namun tidak lulus dalam UN, sedangkan ada siswa lain yang sering bolos dan tidak rajin belajar namun bisa lulus UN sehingga mau tidak mau pihak sekolah harus meluluskannya. Paradoks yang membuat hati miris. Kita semua tentunya tidak ingin melahirkan lulusan yang hanya cerdas secara intelektual semata. Too much science, too little faith.
Pendidikan ditujukan untuk membentuk manusia yang berkarakter, membangun kepribadian seutuhnya, yaitu berkepribadian Islam. Pendidikan Islam adalah upaya sadar yang terstruktur, terprogram, dan sistematis, yang bertujuan mengembangkan manusia yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam dan menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi) yang memadai. Akidah Islam sebagai asa pendidikan menjadi dasar kurikulum (mata ajaran dan metode pengajaran) yang diberlakukan oleh negara.
Akidah Islam berkonsekuensi pada ketaatan pada syariat Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syariat Islam. Pendidikan dianggap tidak berhasil apabila tidak menghasilkan keterikatan pada syariat Islam pada peserta didik, walaupun mungkin membuat peserta didik menguasai ilmu pengetahuan.
Kualifikasi kepribadian Islam diukur secara kualitatif, pencapaiannya harus diamati dalam kehidupan siswa sehari-harinya. Penilaian hal ini tidak bisa hanya sekedar berdasarkan jawaban-jawaban siswa dalam ujian tertulis. Walaupun dalam penilaian penguasaan ilmu kehidupan hal ini bisa saja dilakukan.
Kepribadian Islam haruslah terbentuk dalam diri tiap siswa sehingga kualifikasi lulusan yang diharapkan adalah memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Kompetensi penguasaan ilmu yang cukup, baik tsaqafah Islam maupun ilmu kehidupan, disertai sikap seseorang atas dasar Islam dan selalu menyelesaikan seluruh persoalan hidupnya sesuai dengan aturan Islam.
Seorang peserta didik harus dikembangkan semua jenis kecerdasannya (kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional) karena semuanya dituntut dalam perjalanan hidupnya sebagai khalifah di muka bumi. Kehidupan kita masih diliputi problematika yang rumit dan kompleks akibat krisis multidimensional. Kehadiran lulusan-lulusan berkepribadian Islam yang shalih dan unggul tentunya sangat kita harapkan, agar mereka sebagai pemegang estafet kepemimpinan akan mampu membawa negeri ini ke arah tatanan kehidupan yang lebih baik. Kita memerlukan generasi problem solver not trouble maker. Oleh karena itu, pendidikan kita saat ini harus melahirkan lulusan berkepribadian Islam.
asuna17 berkata,
Mei 14, 2008 @ 3:49 am
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/detik_detik_menjelang_un