Arsip untuk Agustus 15, 2008

KETIKA BENDERA PARTAI MULAI BERTEBARAN

Saat ini, kemana pun anda pergi, pasti anda temukan berbagai macam bentuk dan warna bendera partai-partai yang akan bertanding dalam PEMILU 2009 nanti. Seperti di bundaran, di tengah badan jalan, di depan gapura kompleks perumahan, bahkan sampai pelosok desa.

Fenomena demikian sudah menjadi kebiasaan di negeri ini. Ketika musim Pemilu tiba, sosialisasi yang dilakukan oleh kader partai gencar dilakukan. Sah-sah saja karena suara masyarakat yang mendukung mereka, menjadi standar kemenangan, sehingga segala cara akan dilakukan untuk mendapat simpati dan dukungan masyarakat luas.

Namun, apakah masyarakat cukup diberikan info lambang, slogan, dan visi misi partai saja ? namun mereka tidak diberikan alasan kuat serta langkah yang jelas dari partai dalam merubah nasib mereka kedepan !

Masyarakat yang kritis secara intelektual sekaligus kritis secara ekonomi (terjepit himpitan ekonomi saat ini) pastinya akan berpikir ulang serta tidak asal pilih dalam menentukan partai mana yang akan mereka dukung sekaligus bisa mengakomodir aspirasi mereka.

Terlebih bagi umat Islam yang mayoritas di Indonesia. Mereka harus berpikir keras, partai politik mana yang akan mereka pilih, ditengah banyaknya partai-partai yang katanya berbasis Islam.

Fakta menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara partai politik berbasis Islam dengan partai-partai lainnya. Kenapa ? karena politisi yang aktif di partai tersebut dalam sistem saat ini ikut juga terjerat skandal korupsi, perempuan, dan pertikaian di dalam tubuhnya sendiri.

Sehingga wajar akhirnya dalam banyak pilkada yang dilaksanakan di seluruh Indonesia, angka golput selalu tinggi. Bahkan lewat media televisi (TV One, 24 Juli 2008) dalam PILKADA Jawa Timur, ketika ditanya kepada masyarakat yang golput, alasan mereka golput? Jawabannya singkat ” mendingan cari nafkah untuk anak istri, ketimbang memilih orang yang tidak jelas bisa mensejahterakan mereka”.

Tulisan ini tidak mengajak untuk golput, namun ada dua hal yang diharapkan dari tulisan ini. Pertama, diharakan bisa menjadi perenungan bagi kita yang akan memilih, bahwa kita harus punya standar yang jelas dalam memilih partai, terutama ketika kita sebagai seorang muslim yang taat kepada Allah SWT. Standar yang penting adalah kita hanya memilih partai yang trackrecordnya baik, misalnya dengan kriteria kinerjanya baik di parlemen, mampu memberikan solusi yang benar dalam setiap permasalahan umat dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariah Islam. Dan yang terpenting harus kita pegang, segala sesuatu yang bertentangan dengan syariah Islam adalah kemungkaran dan itu harus dihilangkan. Nah partai yang berani untuk memberantas kemungkaran tersebutlah yang layak dipilih.

Kedua, Mudah-mudahan lewat tulisan ini, juga menjadi pemacu bagi semua partai yang bertanding untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat, tidak hanya janji-janji sebelum PEMILU saja, namun janji tersebut dengan sekuat tenaga akan dilaksanakan. Yang terpenting, partai benar-benar akan melaksanakan ketaatan tertingginya, tidak hanya kepada negara, namun kepada yang menciptakan segalanya yaitu ALLAh SWT.


Tidak ada maksud untuk memberi dukungan kepada partai manapun, karena semuanya menjadi hak kita masing-masing untuk menentukan pilihan. Semuanya terpulang kepada kita, dan yakinlah semua yang kita pilih akan kita pertanggung jawabkan kehadirat Allah SWT.

Komentar bertahan »

GOLPUT = BUKTI PESIMISME MASYARAKAT ?

Sebelumnya MUI se-Madura menyatakan golput haram, yang memilih golput berdosa. Masyarakat diseru untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan gubernur Jawa Timur. Kemudian MUI se-Kalimantan dalam Rapat Koordinasi di Palangka Raya merekomendasikan larangan golput. Ada apa dan mengapa?

Himbauan larangan golput disampaikan dengan alasan sebagai warga negara yang baik harus mematuhi Undang-undang. Serta merujuk pula pada Al Qur’an untuk tunduk dan patuh pada Allah, Rasul juga pemimpin yang sedang memimpin, dalam artian bukan pemerintahan yang dzalim. Selain itu juga dinyatakan umat Islam harus memilih sesuai hati nuraninya masing-masing dan memilih pemimpin yang bisa memperjuangkan umat.

Golput dianggap sebagai sikap apatis, tak peduli dengan permasalahan. Tidak berpartisipasi sebagai warganegara yang baik. Golput juga diartikan sebagai golongan yang harus rela menerima siapapun yang jadi pemimpin nantinya. Mereka dianggap membiarkan calon yang lebih

Mengapa masyarakat memilih golput? Fenomena golput memang terus mengemuka. Bahkan dalam pilkada Barito Utara, golput bahkan jauh melebihi total suara pemenang. Apakah karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi? Ataukah karena masyarakat sendiri pesimis akan adanya perubahan? Perubahan yang lebih baik selalu dijanjikan dalam kampanye. Kenyataannnya, pemimpin sudah seringkali bergonta-ganti, tapi hidup rakyat kecil tetap saja susah. BBM malah makin mahal dan langka pula, listrik tetap byar pet, harga sembako meroket, anak-anak miskin ‘dilarang sekolah’, kesehatan pun jadi ‘barang mewah’. Pemerintah dan anggota legislatif tetap bersikukuh menaikkan harga BBM walaupun rakyat tidak setuju. Padahal mereka dipilih dalam pemilu yang demokratis.

Saat rakyat makin menjerit akiban kesulitan hidup yang makin menghimpit, bukankah para wakil rakyat tetap hidup nyaman dengan gaji tinggi dan bergelimang fasilitas? Kalau toh tidak ada juga perubahan yang dihasilkan mengapa harus ikut mencoblos? Supaya terpilih, calon pemimpin atau partai juga biasa tebar pesona menggunakan money politics smooth or rough. Wajar saja jika sudah duduk di pemerintahan mengembalikan modal mereka menjadi prioritas utama daripada memperhatikan urusan rakyat. Begitulah keluhan yang diutarakan oleh masyarakat. Salahkah jika masyarakat bersikap apatis?

Banyak pihak yang menyatakan bahwa golput tidak akan menyelesaikan masalah. Memang, Allah memerintahkan untuk menaati ulil amri (pemimpin) : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya serta ulil amri di antara kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 59). Namun, ulil amri (pemimpin) yang wajib ditaati adalah pemimpin yang menaati Allah dan Rasul-Nya. Keberadaan pemimpin merupakan keharusan bagi manusia, persis seperti keharusan adanya air untuk kehidupan. Keadilan dan kebenaran tidak akan tampak kecuali dengan adanya kekuasaan pemimpin. Rakyat akan menjadi lemah tanpa pemimpin. Jika rakyat lemah maka mereka tidak akan mendapatkan kemaslahatan; hukum-hukum syariat pun tidak bisa ditegakkan. Tanpa pemimpin, umat tidak terlindungi, karena pemimpin merupakan pelindung umat. Rasulullah saw. menggambarkan hal ini dalam sabdanya: Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. (HR al-Bukhari).

Adakah saat ini pemimpin-pemimpin kita telah menaati Allah dan Rasul-Nya sepenuhnya? Apakah pemerintahan kita tidak mendzalimi rakyatnya? Kita bisa menjawab sendiri. Bagaimanakah jika kenyataannya seperti ini? Haruskah kita terpaksa memilih? Tidak adakah pilihan selain golput?

Setiap pilihan pasti ada resiko yang akan ditanggung oleh pemilihnya. Setiap pilihan pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sikap golput semata dan berdiam diri pastinya tidak akan menyelesaikan masalah. Memilih pilihan yang tidak sesuai dengan kriteria tuntunan Allah juga tidak akan menyelesaikan masalah. Ada permasalahan yang lebih mendasar daripada sekedar memilih pemimpin. Permasalahan utamanya bukan tergantung pada individu dan kualitas pemimpin, karena sebaik apapun pemimpinnya dalam sistem kapitalis-sekuler tidak akan ada perubahan yang berarti.

Demokrasi yang dibawa oleh kapitalis tidak mampu membawa kesejahteraan. Saatnya kembali kepada Islam yang telah mengatur setiap aspek kehidupan dengan begitu sempurna, termasuk politik dan pemerintahan. Itulah hendaknya yang menjadi pilihan kita untuk diperjuangkan bersama dengan menyatukan segenap potensi umat.

*Staf Pengajar STIPER Amuntai

Anggota Aliansi Penulis Pro Syariah (AlPen ProSa) Kalsel

email : nawaalkimia@yahoo.com

blog : www.re_nawaalkimia.blogs.friendster.com

Komentar bertahan »

SIAPA KAWAN SIAPA LAWAN

Oleh Mia Endriza Yunita, SP

“Yet a new totalitarian ideology now threatens, an ideology grounded not in secular philosophy but in the pervension of a proud religion. Its content may be different from the ideologies of last century, but it means are similar : intolerance, murder, terror, enslavement and repression. “

Bagaimana perasaan anda setelah membaca kalimat di atas ? Mengerutkan kening ? Kaget ? Ya, kalimat di atas saya kutip dari Overview America’s National Security Strategy tahun 2006. Jujur, kalimat tersebut nampaknya tidak berlaku untuk skala nasional tapi internasional.

“ The strategy to counter the lies behind the terrorist ideology is to empower the very people the terrorist most want to exploit : the faithful followers of Islam. … and Jordan, Morocco, and Indonesia have begun to make the important strides in this effort.”

Jujur, hal ini menjadi tanda tanya dalam pikiran saya. Siapakah gerangan yang dimaksud the faithful followers of Islam pada kalimat di atas yang saya kutip dari poin The Way Ahead dalam America’s National Security Strategy 2006.

Mengacu pada Review Building Moderate Muslims Network yang dikeluarkan oleh RAND corporation, maka muslim liberal dan moderat lah yang dimaksud sebagai the faithful followers of Islam. Sebab, karakteristik dari muslim moderat yaitu support for democracy and internationally recognized human rights (including gender equality and freedom of worship), respect for diversity, acceptance of nonsectarian sources of (anti syariah ?) and opposition to terrorism and other illegitimate forms of violence. Bukankah sejalan dengan misi dari strategi pertahanan keamanan Amerika khususnya hegemoni kapitalis sekularis ? Demokrasi menjadi entry point utama yang diusung demi menggagalkan tegaknya syariah yang dituduh sebagai paham totalitarian, tidak toleran, teroris dan sektarian. Inilah gerbang liberalisasi !

Maka demi suksesnya liberalisasi global di negeri muslim, dibangunlah jaringan muslim moderat di negeri-negeri Islam. Partner penting yang diprioritaskan adalah muslim liberal dan sekular yang notabene adalah akademisi dan intelektual, pemuda religius moderat yang terpelajar, para aktivis komunitas, grup perempuan yang berkaitan dengan kampanye kesetaraan jender, juga para jurnalis dan penulis moderat.

Benar-benar sebuah proyek yang dahsyat untuk mempertahankan hegemoni kapitalis-sekularis di negeri-negeri Islam. Apakah kita telah menyadari hal ini ? Parahnya, secara tidak sadar kita yang memahami Islam tidak secara kaffah justru meng-amini ide-ide liberal yang disuntikkan melalui berbagai even, entah itu workshop, konferensi bahkan sampai arisan ibu-ibu.

Contoh kecil, ada seorang muslimah dengan bangga mengaku berstatus ibu rumah tangga ternyata hal ini tidak mengenakkan hati muslimah lain. ”Lho kok ngakunya cuma ibu rumah tangga. Seharusnya, kamu ngaku juga sebagai karyawan yang bekerja di sebuah PTS terkemuka di kota ini,” demikian protes teman si Fulanah.

Hakikinya, status ibu rumah tangga (ummu rabbatul bayt) adalah status mulia dan si ibu pun menyandang berbagai aktifitas yang wajib dilaksanakan baik sebagai muslimah juga sebagai ibu. Kalaupun seorang ibu, bila ia bekerja (halal), maka hukum bekerja di dalam Islam adalah mubah. Tentu bisa kita pahami, perbedaan fardhu dan mubah. Sayangnya, ketentuan syariah bagi perempuan dan ibu justru dianggap tidak setara jender. Apakah tidak terpikir bila mencari nafkah adalah kewajiban bagi lelaki berstatus suami dan ayah ? Konteks mubah, tentunya bisa kita pahami bahwa peran istri / ibu adalah sebagai sahabat yang membantu suami/ayah untuk menghidupi rumah tangga.

Contoh yang lebih krusial adalah adanya upaya-upaya pembebasan aliran sesat yang mengaku menganut Islam namun justru jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Majelis Ulama Indonesia telah memberikan kriteria mengenai paham atau aliran yang dinilai sesat, yaitu 1) Mengingkari salah satu dari rukun iman; 2) Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syariah (Al-Qur’an dan As-Sunnah); 3) Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an; 4) Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur’an; 5) Melakukan penafsiran al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir; 6)Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam ; 7) Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul; 8)Mengingkari Nabi Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul terakhir; 9)Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu; 10) Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan Muslim karena bukan kelompoknya.

Kini, mari kita renungi bersama, apa dan siapa yang harus dilawan. Apakah terhadap kapitalisme-sekularis ? Apakah terhadap kaum muslimin yang membebek pada propaganda liberalisme dan moderat ? Hati-hati, sesama kaum muslimin adalah saudara seiman bukan lawan. Perlu kejernihan, kecemerlangan berpikir dan keikhlasan dalam memahami juga menerapkan Islam kaffah.

Wallahu’alam bish shawab.

(Penulis buku ’THE SIDES’ ;

web-blog : http: //miamey.multiply.com

Komentar (1) »