Oleh Fathimah
Dalam sejarah kehidupan Islam dimasa kekhalifahan Umar bin Khatab (semoga Allah meridhainya). Di masa itu Umar pernah mengangkat orang shalih bernama Said bin Umair sebagai gubernur di kota Horms, Syiria. Suatu hari utusan penduduk kota Homs menghadap Khalifah Umar bin Khatab ra yang terkenal adil dan menyayangi rakyatnya, kepada utusan tersebut Umar memerintahkannya untuk menuliskan nama penduduk yang terkategori fakir untuk di berikan bantuan dari harta baitul mal . Alangkah terkejutnya Umar tatkala menemukan bahwa diantara sejumlah penduduk yang terkategori fakir tercantum nama Said bin Umair yang tidak lain adalah gubernur di kota Homs. Melihat kenyataan itu khalifah Umar menangis dan menyerahkan kepada utusan penduduk Homs uang seribu dinar untuk diserahkan kepada gubernur mereka.
Namun, ketika gubernur Said bin Umair menerima uang pemberian dari sang khalifah yang diserahkan oleh penduduk kota Homs, gubernur tersebut bukannya kesenangan melainkan mengatakan Inna lillahi wa inna lillahi roji’un. Beliau berkata kepada isterinya “saat ini aku kedatangan dunia yang hendak merusak akhiratku”. Tidak menunggu waktu lama hari itu juga Said bin Umair membagi-bagikan seribu dinar yang dikirim khalifah Umar bagi dirinya itu untuk di bagikan kepada fakir miskin di kota tersebut.
Dalam kesempatan lain khalifah Umar pernah mengunjungi kota Homs tempat gubernur Said bin Umair bertugas dan akhirnya Umar mengetahui ternyata pejabatnya tersebut tidak memiliki pembantu untuk mencucikan pakaiannya dan memiliki jumlah pakaian seadanya.meskipun keadaanya demikian akan tetapi penduduk setempat memuji kepemimpinannya.
Demikian sekelumit peristiwa indah yang terjadi dimasa kekhalifahan Umar . Masih banyak peristiwa masyhur lain yang terjadi di masa kekhalifahan Umar tentang kepedulian beliau terhadap rakyatnya diantaranya peristiwa beliau menolong seorang ibu yang kelaparan bersama anaknya dengan cara mengambilkan makanan dari baitul mal.
Dimasa kehidupan Rasulullah dan para sahabat beliau, berikut para khalifah Islam, banyak fakta yang akan kita temukan tentang keberadaan pemimpin yang bersahaja dan memiliki sensitivitas terhadap kesulitan warganya. Dalam potret kehidupan mereka yang bersahaja bahkan lebih dekat kepada kategori miskin mereka berhasil menjadi pemimpin yang mampu menghasilkan karya yang mendunia, yang menghantarkan mereka mampu menguasai dunia dan memiliki kepemimpinan yang diakui dunia .
Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. misalnya (cucu Umar bin Khaththab ra) khalifah terbaik dari Bani Umayyah dan dijuluki khulafaur rasyidin kelima, memerintah tahun 717-720 M) yang mampu mendongkrak perekonomian kaum Muslimin dan menghasilkan pemerataan kemakmuran di seluruh negeri. Meski rakyatnya makmur seperti halnya kakeknya (Umar bin Khattab), khalifah Umar bin Abdul Aziz tetap hidup sederhana, jujur dan zuhud. Bahkan sejak awal menjabat khalifah beliau menjual kekayaannya seharga 23.000 dinar(setara hampir 20 miliar rupiah), lalu menyerahkan uang hasil penjualannya kepada kas Negara. Khalifah Harun ar Rasyid r.a. (khalifah terbaik dari Bani Abbasiyah, memerintah tahun 786-809 M) yang membawa kaum Muslimin ke puncak peradaban, adalah seorang penguasa yang meski masih muda, tapi brilian, dan hidup jauh lebih sederhana daripada sebelum ia jadi khalifah.
Dorongan taqwa buah dari iman yang sempurna dari para pemimpin tersebut menghantarkan masyarakatnya kepada kesejahteraan . Mereka memimpin karena Allah sehingga mereka menjaga amanah kepemimpinan dengan sebaik-baiknya dan hanya menjadikan aturan Allah sebagai landasan dalam menjalankan setiap kebijakan. Mereka adalah sosok pemimpin sejati yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap kehidupan masyarakatnya. Mereka berhasil membawa Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin..
Syariat Islam memang telah menegaskan jabatan penguasa bukanlah sebuah keistimewaan. Seorang pemimpin menurut Islam adalah perisai bagi rakyatnya., mereka adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Dalam pandangan syariat Islam negara berkewajiban menjamin kebutuhan pokok setiap individu masyarakat baik muslim maupun non muslim dan wajib menjaga bergeraknya ekonomi real ditengah umat . Peristiwa yang masyhur negara senantiasa mengingatkan warganya agar tidak melalaikan tanggung jawabnya untuk bekerja. Negara juga harus menjamin kebutuhan kolektif strategis seperti pendidikan dan kesehatan. Dalam hal ini Negara wajib menjamin pendidikan yang bisa di jangkau termasuk menjamin kesehatan masyarakat.
Pandangan demikian memang telah di pahami dengan baik oleh pemimpin di masa keemasan kehidupan Islam. Tidaklah mengherankan jika pada akhirnya pandangan demikian melahirkan pemimpin yang mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya tanpa kecuali diantaranya terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Azis.
Keadaaan demikian nyaris tidak pernah kita dengar dan temukan masa kini, disaat masyarakat dunia menganut ideology kapitalis. Alih-alih menyejahterakan, penerapan ideology kapitalis justru semakin memurukkan masyarakat. Penerapan ekonomi yang kapitalistik mengahantarkan kepada distribusi ekonomi yang tidak merata. Sumber kekayaan hanya dapat dinikmati oleh segelintir kelompok sementara kelompok lain menjadi obyek penderita.
Kapitalistik menjadikan manusia bangga dengan kemewahan dan menghantarkan individu hanya memikirkan dirinya sendiri, miskin sensitivitas Lihatlah, ketika rakyat banyak kelaparan, elit politik dan pemerintahan serta sekelompok kecil masyarakat justru hidup dan kemewahan dan bergelimang fasilitas. Dana puluhan bahkan ratusan miliar digelontorkan demi meraih kekuasaan. Sumber Daya Alam yang merupakan milik ummat hanya dapat di nikmati oleh segelintir orang bahkan cenderung dieksploitasi negara-negara maju. Kebijakan yang neoliberal menyebabkan mahalnya pendidikan dan kesehatan. Kebebasan berekspresi yang di gembar-gemborkan kapitalis justru menghantarkan kepada maraknya pornografi dan pornoaksi, rusaknya moral masyarakat bahkan penistaan terhadap Islam.
Jika Kapitalisme memang telah gagal menyejahterakan masyarakat, bahkan membangun individu yang miskin sensitivitas dan penerapan Islam pada masa lalu berhasil menyejahterakan rakyatnya masihkah kita meragukan kemampuan Islam sebagai solusi atas problem negeri ini? Wallahu,alam