Ken

 Rismiyana

 

 “Ta, klo boleh jujur, kamu adalah orang yang paling keras dari sekian banyak orang yang pernah kutemui.” Mbak Titis berkata pelan. Matanya mengerjap beberapa kali. Aku tahu, pasti berat baginya untuk mengatakan penilaiannya barusan.

            Aku sendiri hanya mengangkat alisku sesaat. Lalu tersenyum sambil memandang wajahnya.

            “Walau begitu aku tetap menyukaimu, karena dari awal ketemu aku udah ngerasa kamu baik.”

            Kali ini aku tertawa mendengar penilaiannya itu. Siapa sih yang tidak senang disebutkan sifat-sifat baiknya. Tapi, bagiku penilaian yang pertama tadi jauh lebih berbekas.

Mungkin bagi Mbak Titis yang lembut dan besar di lingkungan Jawa Priyayi, yang baru saja menamatkan Pascasarjana UGM, berhadapan dengan remaja sepertiku adalah hal baru dalam hidupnya.

            “Manusia itu seperti tanah, ia memberikan kehidupan berupa tumbuh-tumbuhan sebanding dengan sinar matahari dan air hujan yang ia terima dari langit yang menaunginya.”

Lanjut Mbak Titis lagi berfilosof.

 

             Setelah mendengar perkataan Mbak Titis tadi siang. Mataku jadi sulit dipejamkan. Benakku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Manusia seperti tanah? Manusia memberikan sebanding dengan apa yang dia terima? Aku ingin menganalisis diriku, apa benar aku seperti tanah? Tapi…, terlalu rumit. Menilai diri sendiri perlu kerendahhatian, keikhlasan. Itu perlu perenungan dan waktu! Jadi, mending aku analisis saja orang-orang di sekitarku. Siapa ya? Orangnya harus unik, berkarakter kuat kuat dan kenal dekat denganku.

            Mbak Titis? Bukan dia, ia orang yang sukar ditebak. Anita? Rasanya bukan dia, aku tak terlalu mendalami kejiwaannya. Pak Hadi, guru Matematikaku yang pendiam? Aku tak mengenal kesehariannya di rumah, bisa jadi watak beliau berbeda antara di sekolah dengan di rumah. Tio? Hmm, di mataku apapun tentang dia selalu mengagumkan. Siapa ya,…?

            Aha! Ken Zhou. Ya, ia orang yang tepat. Teman SMU ku yang paling eksentrik, perpeksionis, jujur, tukang kritik, dan…, suka menggambar!

            Sebenarnya, awalnya aku dan Ken tidak saling mengenal. Hanya waktu jadi siswa baru, aku sudah ingat betul pada sosoknya. Pada masa perpeloncoan oleh kakak kelas, Ken Zhou adalah satu-satunya siswa baru yang berani membantah kakak kelas. Karena keberaniannya itu, ia di hukum di depan kami semua, para siswa baru. Selanjutnya, karena kemahirannya menggambar namanya populer di seantero sekolah.

            Fisik Ken tidak dapat dikatakan bungas. Tubuhnya terlalu kerempeng untuk anak laki-laki seusianya dan jerawat hampir menempati setiap mili kulit wajahnya. Aku yang juga memiliki fisik pas-pasan tentu saja bukanlah tipe anak perempuan yang mampu merebut perhatiannya. Bahkan walaupun posisi duduk kami saat ini berdekatan (tempat duduk siswa membentuk hurup U, aku dan dia berada di sudut), aku bukanlah sosok yang keberadannya mampu membuat Ken melepas pandangannya sesaat dari kertas gambar.

            Ya! Hanya karena peristiwa siang beberapa waktu lalu keadaan berubah.

            Waktu itu seperti biasa ia asik dengan kertas gambarnya. Beberapa teman bergantian melihat hasil coretan tangannya itu. Dan setiap itu pula terdengar decak kagum dari mulut mereka. Aku lalu memutar tempat duduk dan memperhatikan apa yang sedang digambarnya.

            “Ini laki-laki atau perempuan?” Tanyaku padanya sambil menunjuk sosok pemakai jubah berambut panjang yang sedang memegang pedang panjang di tangan kanan.

            “Ini gambar laki-laki. Lukas Oregon, Ksatria Perang Salib.” Katanya sambil tangannya membuat garis-garis pada gambar itu.

            “Garis-garis yang kamu buat terlalu halus, kesannya lembut. Jadi yang tampak bukan Ksatria, tapi seorang Puteri.”

            Dia mendongak padaku. Memandangku sesaat lalu bergumam, “Baru kali ini ada yang mengkritik hasil gambarku. Biasanya selalu pujian.”

            Sejak kejadian itu, aku kemudian menjadi sosok yang keberadaannya diperhitungkan olehnya. Biasanya setiap berhasil merampungkan satu atau beberapa gambar, pagi-pagi sekali sebelum pelajaran dimulai Ken selalu menunjukkan gambar itu padaku, menyuruhku menilainya.  Tidak semua gambar yang dibuatnya kukritiki. Ada beberapa yang tidak kusukai. Fasilitas internet di kamarnya yang disediakan orang tuanya membuat Ken sering melihat adegan-adegan yang tidak sopan dan itu dia tuangkan dalam beberapa gambarnya. Tentu saja aku marah ketika Ken menyodorkan gambar yang tidak sopan itu.

            “Aku gak mau lihat! Gambar seperti itu jelek, jelek! Pokoknya gambar yang kayak gitu, jeleeek!” Kataku sambil membuang mukaku. Menurutku, walaupun yang digambar Ken adalah manusia Elf, dengan karakter kartun, tetap saja gambar-gambar yang memperlihatkan aurat seperti itu tak patut untuk digambar.

            Walau berasal dari keluarga berada, memiliki keahlian menggambar, pintar bahasa inggris dan Jepang, satu hal yang menjadi kekurangan Ken. Dia canggung dalam bergaul. Reaksi tubuhnya seringkali tampak aneh saat berinteraksi dengan teman-teman dikelas. Dan hampir semua teman-teman di sekolah, khususnya teman sekelas kami, menganggap dan memperlakukan Ken sebagai siswa aneh, tidak normal dan suka mengejeknya     

            Aku dan Ken biasanya membentuk kelompok di pojok kelas bersama John dan Gie. John selalu terlihat sok dewasa. Biasanya dia berbicara dengan menjaga intonasi suaranya, persis seperti pejabat sedang wawancara di televisi. Tangan kanannya masuk ke saku celana sementara tangan kirinya mengusap-usap dagu. Gie pernah bilang, gaya John itu meniru ibunya yang seorang pendeta.

Berbeda dengan Ken yang kerap mengucapkan, “Hidup ini keras kawan!”, John mengatakan bahwa, “Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu pilihan”. Dia lebih sering berdebat denganku dibanding yang lain, bahkan pernah kami berdua hampir berkelahi. Sedangkan Gie, ia adalah sosok anak laki-laki yang manis, hampir tidak pernah berselisih pendapat denganku. Sayang, lidahnya tidak sampai menyebut ‘r’. Kalau John begitu mengagung-agungkan musik jess, Gie sama denganku. Kami sama-sama suka rock slow dan membaca cerita silat.     

Sedangkan Ken, semua yang berbau Jepang, dia suka, sebaliknya apa yang berbau China sangat dibencinya. Makanya seisi kelas tahu, untuk menarik perhatian atau membuat Ken marah, cukup melakukan satu hal, memanggilnya dengan seruan: “China!”. Ken pasti langsung marah dan berteriak, “Jangan panggil unda china!”

            Selain mahir menggambar dan pintar bahasa asing, satu lagi yang menjadi karakter khas Ken: pelit. Ya! Ken terkenal dengan ke-pelit-an-nya. Nah, mengapa aku menjadikan Ken sebagai bahan analisi? Karena dalam sebab musebab kepelitannya itu, Ken cocok sekali disamakan dengan kata-kata yang diutarakan Mbak Titis. Ken seperti tanah!

            Pernah suatu hari saat jam istirahat. Ken mengeluarkan empat bungkus permen dari dalam sakunya. Permen itu dimakannya satu, sisanya ia genggam di tangan kiri. Tangan kanannya seperti biasa membuat sketsa di kertas gambarnya. Santi teman dudukku, menegurnya dan meminta satu bungkus permen darinya. Setelah hampir lima belas menit memelas tapi tak dipedulikan Ken, Santi merasa kesal, matanya hampir menangis. Tapi, Ken tetap tak memperdulikannya. Aku yang tak tega melihat Santi seperti itu, lalu menyeringai pada Ken. Melihatku seperti itu, tiba-tiba Ken menawarkan permen yang dipegangnya.

            “Na, mau?” Tawarnya sambil cengengesan seperti biasa.

            Aku mengambil permen itu satu dan menyerahkan pada Santi. Mata Ken sempat melotot saat melihatku memberikan permen yang diberikannya itu pada Santi.

            Kepelitan Ken bukan hanya berlaku pada Santi. Pada John yang paling sering menghabiskan waktu bersamanya, Ken juga pelit. Saat masa persiapan menghadapi UAN, kami kelas tiga mendapat jam tambahan belajar sampai sore. Hampir semua siswa membawa bekal dari rumah  tak terkecuali Ken. Nah, saat istirahat kedua, di kelas kami seperti biasa memakan bekal kami barengan. Sekali waktu aku lihat Ken membawa dua potong paha ayam goreng dan empat potong sosis. John yang berasal dari keluarga sederhana dan membawa lauk seadanya meminta lauk pada Ken. Ternyata nasibnya sama seperti Santi. Walau telah merayu dan merengek pada Ken, Ken tak mempedulikannya.

            Mendengar rengekan John aku merasa terusik dan memutar dudukku pada mereka.

            “Na, mau?” Tiba-tiba Ken menyorongkan kotak bekalnyanya padaku. Aku hampir menerima pemberiannya, bukan karena ingin mencicipi lauknya, aku hanya merasa sayang menolak kebaikkannya yang langka. Tapi, akhirnya aku menggeleng.

            “Gak ada babinya. Ayam sama sosis sapi, halal.” Dia membaca alasan penolakanku.   

            “Walau itu gak ada daging babinya, tapi alat masaknya gak mustahil terkontaminasi dengan minyak atau daging babi.” Kata John, kemudian ia meneruskan rayuannya pada Ken. Sampai selesai makan, aku tahu John tetap tak berhasil meluluhkan hati Ken untuk memberi lauk padanya.

            Dari dua peristiwa itu rasanya sudah cukup untuk membenarkan apa yang dikatakan Mbak Titis. Bahwa manusia seperti bumi. Ia memberikan sebanding dengan apa yang diterimanya. Sikap keras, tak peduli, cuek, pelit yang ditunjukkan Ken pada teman-teman di sekitarnya adalah sebanding dengan perlakuan yang ia terima. Hampir semua yang berinteraksi dengannya selalu mengejek, merendahkan dan menganggap Ken berbeda dari yang lain. Bahkan John dan Gie, sepertinya bersedia menghabiskan waktu bersama-sama Ken karena mereka banyak mendapat manfaat, fasilitas dan kemudahan darinya. Memang tidak semua teman bersikap buruk padanya, tapi mereka itu adalah mereka yang memang tidak mempedulikannya. Sikap teman-teman seperti itu sebenarnya wajar. Karena tingkah laku Ken memang sering kali menyebalkan dan aneh. Tapia pa selamanya dia harus diperlakukan seperti itu?

            Berfikir seperti itu bukan berarti aku merasa aku telah berbuat baik pada dirinya. Setidaknya, aku memperlakukannya dengan jujur. Ketika aku tidak suka dan marah pada kelakuannya yang menurutku tidak baik, maka aku memperlihatkan terus terang padanya. Begitu juga saat hasil gambarnya bagus atau saat dia bersedia menjadi ‘kamus hidup’ saat ulangan Bahasa Ingiris, aku selalu menunjukkan ekspresi menyenanginya. Dan mungkin perasaan Ken yang sensitif merasakan bahwa aku tulus. Mungkin hal itu yang membuat Ken memperlihatkan sikap yang berbeda padaku.                   

            Ya! Ken memang baik padaku. Bahkan saat aku memintanya menggambar kartun dengan karakter diriku, walau didahului dengan kata-kata tajamnya, tokh ia mengerjakannya untukku. Padahal, setahuku ia tak pernah bersedia menggambar teman-temannya, walau sekedar sebatas karakter. Alasannya, ia hanya bersedia menggambar yang pantas untuk digambar.

            “Apa yang harus digambar dari dirimu! Yang terlihatkan hanya mata doang! Lagian dirimu bukan sosok yang ideal untuk kugambar..” Katanya hiperbol. Maklum aku memakai kerudung dan seperti yang kupikirkan terdahulu, aku tidak cantik. Tapi entah kenapa saat kuserahkan fotoku akhirnya dia mau mengerjakannya sambil sesekali melihat ke arahku. Dari hasil gambarannya itu, aku tahu seperti apa aku dalam benaknya. Pemurung!  

            Eh, kok  analisisnya berbelok pada diriku. Mmm…, mending sekarang aku tidur. Tiba-tiba saja di benakku muncul ide untuk mengadakan sebuah eksperimen. Untuk menjawab pertanyaan; Apa memang manusia seperti tanah? Dalam minggu ini juga aku akan melakukannya. Mumpung saatnya memang tepat. Tentu saja yang menjadi objek adalah Ken!

 

            Waktu yang ditentukan telah tiba. Hari ini, tanggal 27 Januari adalah ulang tahun Ken. Sebenarnya, kemarin aku sudah ke toko buku membeli kartu ucapan. Tapi malam tadi aku berubah pikiran. Ken sudah terbiasa dengan benda-benda buatan pabrik. Tentu akan lebih berkesan bila kartu yang akan diberikan padanya butan tangan dan agak artistik. Maka aku hanya mengambil amplop dari kartu yang kubeli itu. Isinya kertas HVS biasa. Kata-katanya kukarang sendiri. Ken pernah bilang, puisi-puisi yang kubuat terlalu melankolis dan sentimentil dan itu membuatku trauma. Sejak itu aku merubah style-ku dan kata-kata yang kutulis untuknya juga kusesuaikan dengan gaya baruku itu.

            Pagi-pagi sekali, dengan bantuan Santi, John, dan Gie aku mengumpulkan tandatangan teman-teman sekelas di kartu hasil kreasiku itu. Santi yang mewakili seisi kelas menyerahkan pada Ken saat jam istirahat pertama.

            Saat istirahat tiba. Aku memutar dudukku. Beberapa teman, khususnya John, Gie, dan Santi tampak senyum-senyum.

            “Ken…” Panggil Santi.

            “Apa,…!” Katanya.

            Sani lalu mengulurkan amplop yang dipegangnya. “Untukmu…, dari teman-teman sekelas.”

            Dia mengambil amplop itu dengan sikap malas sambil mengernyitkan keningnya. Lalu membuka dan membaca isinya. Lambat-lambat dia tersenyum, mengusap rambutnya dengan tangan kiri beberapa kali, kemudian…,  ia tertawa! Suara tawa yang berbeda dari tawa yang sering kudengar dari mulutnya selama ini. Tawa yang menunjukkan ekspresi wajah berbeda, tawa yang sebenarnya tawa, bukan ungkapan ironi.

            “Buhan nyawa tahukah unda ulang tahun hari ini. Unda  ja lupa. Ia masih tertawa.

            “Selamat ulang tahun…!!!” Teriak kami berbarengan. Kemudian menjabat tangannya bergantian.

            “Ken, kapan kita ditraktir?” Tanya Santi.

            “Iya nih, Ken kita sekelas ditraktir bakso Mang Ujang ya?” Gie menimpali.

            “Tapi kaya apa yo, hari ini unda kada bawa uang banyak.” Jawab Ken.

Aku mulai memperhatikan sikap Ken. Emm…, sepertinya dia mendekati apa yang dikatakan Mbak Titis, seperti tanah!

            “Ah, kalau itu masalahnya mudah. Bilang aja kamu bayarnya besok. Cepat pesan sekarang, nanti keburu habis.” Kataku bersemangat.

            “Oke deh!” Ken tergopoh-gopoh keluar kelas menuju kantin. Seisi kelas tertawa, bukan tawa mengejek atau mencemooh dirinya. Tapi tertawa karena senang bakal ditraktir.

            Kalau begitu sudah saatnya aku menyimpulkan apa yang dikatakan Mbak Titis: manusia memang seperti tanah, ia akan memberikan sebanding dengan apa yang dia terima.

             Apakah aku juga seperti itu? Aku seperti tanah? Ah, entahlah,…

 

                                                                                                            Desember 2006

Catatan: Cerpen Ken sebenarnya terinspirasi dari dua hal. Pertama teman sekelas saya yang memiliki karakter unik, dan yang kedua teguran seorang Mbak yang heran dengan kekerasan sikap saya. Cerpen ini saya selesaikan setelah saya menematkan buku Anak Semua Bangsa Karya Pramodya Ananta Toer.

Komentar (3) »

KONTRAK MIRANTI

(* Oleh Puan Malaya

Saat kutatap nanar wajah-wajah yang seakan pongah. Wajah-wajah yang matanya pura-pura kelilipan. Wajah-wajah yang pura-pura batuk. Wajah-wajah yang pura-pura menatap deretan lampu lalu lintas. Mungkin jengah, bosan melihat diriku yang tiap hari, tiap panas mentari menyengat kulit bumi dan seisinya, tak peduli gumpalan debu yang siap melahap tubuh beliaku namun tak pernah jera menadahkan tangan pada wajah-wajah yang seakan pongah itu.

Kubisikkan doa. Semoga mereka menyisihkan sedikit harta benda mereka. Untuk diriku yang papa, untuk diriku yang terpenjara dengan setoran paksa mengandalkan kekumuhan, kedekilan, agar terbit belas kasihan.

Mengapa wajah-wajah itu beku ? Mungkin mereka telah tahu bahwa harta yang mereka percikkan hanya untuk foya-foya Bos Besarku. Mungkin mereka pun telah merasa miskin. Dan sedikit harta begitu berarti bagi kehidupan mereka. Info berita pagi yang sempat termakan oleh gendang telingaku lamat-lamat masih terdengar, sepintas masih kuingat, -’harga gula naik, harga beras naik, harga minyak naik’….ah..semoga rejekiku ikut naik.

Saat lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah. Aku sumringah. Kukais rupiah, menadahkan tangan kepada para pengendara yang taat lalu lintas. ” Hei, berikanlah hartamu sedikit…hai bapak, ibu, kakak..nanti aku bisa-bisa ditampar, dianggap tidak becus, dianggap kurang modal untuk terbitkan belas kasihan, dan dijadikan bulan-bulanan oleh Bos Besar.” Geram hatiku akan kepapaanku. Tertindas, terinjak, mampukah aku berlari dari semua ini ?

Xxx

Senja hari, di sarang Bos Besar.

”Heh ! cuma ini yang bisa kau cari ?” Bos Besar dengan mata nyalang menatapku buas. Bos Besar yang kelabui aku demi rupiah dan membuatku tercerai-berai dengan ibu bapakku, sanak saudaraku. Katanya aku mau dijadikan anak buah toko. Kalau tidak ya babu. Kalau tidak ya….

”Ngemis aja gak becus ! Ntar malam, umpat unda haja ! Mandi yang bersih ! Dandan yang rapi ! Nih, gasan nyawa ! ” Bos besar melempar 2 gumpal uang seribuan dan sebungkus nasi. Nasi berlauk tempe kulahap bersama teman-teman kecilku yang tidak lagi sebaya. Sayup-sayup terdengar kumandang azan Maghrib. Aku bergegas mandi lalu berwudhu dan shalat dengan mukena lusuhku.

”Semiskin apapun, jangan pernah kau tinggalkan shalat.” Masih kuingat amanah Bapak saat melepas kepergianku dengan Bos Besar. Masih kuingat bulir-bulir air mata yang mengalir di pipi tua ibu. Aku, perempuan sulung, harus mengubah nasib, bertekat harus berhenti menjadi buruh tani yang hanya mengurusi tanah orang lain dengan upah yang tak seberapa.

”Hei ! Sudah siap belum ? Pake shalat shalat lagi ! Biar shalat seribu kali, tatap ai miskin !” sembur Bos Besar seraya menarik lengan tanganku dengan kasar. ”Cepat ! Bereskan barang nyawa semuaan.”

Semua ? Apakah Bos Besar mau memulangkanku ?

“Pulang kampung, Bos ?” tanyaku takut-takut.

“Pulang kampung, dengkulmu !” Bos Besar menebar sumpah serapah. ”Jangan banyak tanya ! Mau kuhajar ?”

”I i i iya bos …” Segera kubenahi baju-baju kumalku, baju-baju lusuhku, baju-baju dekilku.

xxx

Bungasnya bawaan nyawa, Man! Tapi kok dekil begini. Nyawa mandi’i pakai apa? Banyu pacirinkah ?” Wanita seumur ibuku, mungkin usianya 50-an, dandanannya menor, dengan roman wajah centil menyapa kedatangan kami,

Aku tak kenal tempat ini. Terpencil, jauh dari keramaian kota. Tapi tempat ini seakan tak pernah mati. Bahkan, nampak semakin hidup. Tak selayu diriku yang kian lemah dimakan beban derita. Bos Besar masih tak beranjak dari pembicaraannya bersama wanita yang menyambut kedatangan kami tadi.

Lamat-lamat terdengar suara percakapan Bos dan wanita itu. Tak terdengar jelas. Aku terduduk di sofa empuk tak jauh dari tempat duduk mereka.

Maman, sang bos besar ternyata sedang transaksi tubuh Miranti untuk dijual kepada Jumirah.

”Bagaimana, Man ? 2 juta ya ?!” rayu Jumirah seraya menghembuskan asap rokok mildnya.

”Wah…terlalu murah, Jum. Miranti masih perawan. Masih polos. Lugu.”

”Nah,makanya itu… kalau masih perawan, masih polos berarti kan unda cagar malajari dulu teknik-tekniknya.”

Maman jadi nginyem.

”Dimana-mana Man, kalau masih mentah tu murah. Nanti unda yang moles, unda yang malajari . Wajar unda minta murah.”

Tinggi’i dikit pang, Jum. Masa cuma 2 juta. Udah perawan, ayu lagi. Anaknya rajin shalat lagi.”

Akayah ! Memangnya kerja disini pake shalat segala ?! ”

Sakadanya nyawa pikirakan jua. Kayapa, Jum ? Naik’akan harganyalah.”

Nyawa handak berapa ? ”

Bos besar mulai memperhatikan jari-jarinya. Diangkatnya 5 jari pada tangan kanannya. Jumirah bengong.

”Hah !!!! Lima juta !!!?” Jumirah yang sehari-hari adalah germo bagi perempuan – perempuan muda yang menjajakan seks short & long time untuk pelaut asing dan pekerja tambang itu terperangah.

”Yakin pang Jum, kada bakal rugi ! Sambil manulungi aku. Biniku cagar beranak sebentar lagi, ” Maman memelas pasang tampang sedih.

Jumirah menatap Miranti yang tengah bengong duduk di ruang tamu. Wajahnya mulus tanpa jerawat, lugu dan eksotik. Kalau kata Tukul Arwana, ndeso. Bodi, tingi semampai walaupun berkulit coklat gelap. Fakta aktual, yah mendekati Tiara lah, mantan fotomodel majalah berlogo kepala kelinci berdasi kupu-kupu itu.

”Bagaimana Jum ?” Maman memecahkan keheningan hingga membuat Jumirah tergagap.

”Okelah 5 juta,” sahut Jumirah pendek dan seribu rencana tengah berkecamuk dalam otaknya.

***

Bos Besar meninggalkanku di rumah Mami Jum dengan kantong yang membengkak. Tak pernah kulihat Bos Besar tersenyum selebar malam tadi. Kini aku harus mengikuti apapun perintah Mami Jum.

***

Jumirah berpikir keras. Ia tak ingin 5 jutanya menjadi buntung. Setidaknya bertambah dua kali lipat atau berlipat-lipat. Kalau hanya mengandalkan booking pelaut asing ataupun pekerja tambang tidak mungkin mampu melipatgandakan 5 juta secepat kilat. Aha… Pikiran cemerlang pun menghambur dalam sel-sel syaraf otak Jumirah. Seketika wajah Jumirah pun sumringah. Kenapa tidak sedari tadi hal ini terpikirkan ?

Jarinya pun liar memenceti tombol telepon selularnya. Tak sabar hatinya menanti nada sambung berganti dengan suara yang ingin ia hubungi.

” Halo, Lin…gimana dengan bisnis ginseng kita ? Masih jadi ?” berondong Jumirah dengan nada tak sabar.

”Ada bibitkah disitu ?” sahut suara dari seberang.

”Ada. Berapa kontraknya ? ”

” 2 tahun, 20 juta.”

Jumirah langsung kegirangan begitu mendengar 20 juta. Uangnya yang sisa 1 juta akan bertambah. Ini pertanda baik. Paling-paling mendandani Miranti hanya habis 500 ribu. Orangnya sudah cantik duluan.

”Ok haja. Kapan kita ketemu ?”

”Lusa. Di Hotel XYZ kamar 345. Jam 9 malam. Hari ini aku hubungi Mr. Han.”

Hubungan pun terputus. Jumirah tersenyum puas. Bisnis ginseng membuat jantungnya berdebar. Ini kali pertama ia jalankan.

Dengan takut-takut dan penuh keluguan, Miranti mengikuti apapun kehendak Jumirah. Ke salon sudah, mengenakan baju yang sedang in juga sudah. Polesan riasan wajah kini melengkapi sosok Miranti, remaja desa berusia 15 tahun yang rela meninggalkan keluarganya nun jauh di desa dan harus rela terjebak dalam belitan arus kapital demi melengkapi haus nafsu lelaki.

Akhirnya, lusa yang dinanti pun tiba. Gerimis menghantarkan kepergian Jumirah dan Miranti ke hotel XYZ seperti yang dijanjikan oleh rekan bisnis ginseng Jumirah. Gerimis hati menambah timbunan tanda tanya yang mengguruh dalam benak Miranti. ”Aku mau dibawa kemana ?” bisiknya dalam hati.

Hotel XYZ adalah hotel eksklusif di kota itu. Tidak sedikit para pengusaha maupun wisatawan asing yang menjadikannya sebagai tempat bermalam. Sebagai tempat pengesahan Mou ataupun sekedar menyingkirkan kepenatan dari rutinitas bisnis. Miranti dengan langkah gugup, masuk ke dalam lift. Jumirah santai saja, karena ia sudah terbiasa mengantarkan anak didiknya ke tempat itu.

Kamar 345. Jumirah mengetuk daun pintu. Sosok perempuan umur 30’an dengan rambut dicat pirang membukakan pintu. Jumirah dan Miranti pun memasuki kamar itu. Sementara di dalam kamar telah ada 4 orang laki-laki. Satu orang nampak berpenampilan bak tuan guru, sebutan bagi orang yang memiliki ilmu agama yang luas dan dipercaya masyarakat untuk memberikan solusi hidup ataupun menikahkan. Sisanya, 2 orang laki-laki yang tampak kekar dan kuat. Satu orang lagi berperawakan tinggi, putih dan bermata sipit. Nampaknya, ia orang asing .

”Ini orangnya ?” dengan bahasa Indonesia yang patah-patah dan terbata-bata ia memandangi Miranti. ”Hm…saya suka,”sambungnya lagi.

Jumirah dan Linda- rekan bisnis ginseng Jumirah- gembira ria. Mereka pun saling berpelukan. Miranti hanya terheran-heran.

”Baiklah, kita mulai saja.” Lelaki yang berpenampilan bak tuan guru menyudahi suasana kegembiraan itu. Kegembiraan bagi Jumirah dan Linda tentunya. Kegembiraan Mr. Han yang akan memiliki Miranti. Kegembiraan pula bagi sang lelaki bak tuan guru dan para pengawal Linda yang akan kecipratan persenan di malam itu.

Prosesi nikah pun dimulai. Malam itu, dua insan yang tak pernah bersua, apalagi terlibat perasaan mencinta tengah diresmikan dalam ikatan nikah siri yang mut’ah. Nikah tersembunyi yang terselenggara atas sebuah kontrak tengah terjadi. Lembar demi lembar kertas perjanjian ditandatangani Miranti yang isinya tidak ia mengerti sedikitpun.

Miranti pun malam itu resmi menjadi milik Mr. Han. Rembulan mengintip malu-malu dibalik awan. Bintang-gemintang meredup di kelamnya malam. Gerimis pun masih saja membasahi tubuh bumi. Sementara itu geliat ritme kehidupan malam tengah memulai derapnya, tuk obati kejenuhan dan kehausan nafsu tak bertepi

Komentar bertahan »

Senandung Cinta Rheiy

Oleh Pena_biru

Bumi Allah, 1 Rajab 1427 Hijriah

Kepada Imam dan Mujahidku,

Aku menyatakan sudah siap bila saat itu tiba, engkau datang kepadaku. Kupahami kesiapan sebagai sebuah komitmen menghadapi seberat apapun persoalan yang nantinya akan kita hadapi bersama, kesiapan menghadapi karaktermu, kesiapan untuk sabar mengingatkanmu dan kesabaran mematuhimu.

Aku menginginkan membangun istana kita di atas pondasi cinta suci, kita saling mencintai karena Allah semata. Menangis aku membayangkan hal itu. Dirimu tentu telah memahaminya, betapa besar balasan bagi dua orang yang mencintai karena Allah.

Cintaku, kuharap nantinya kita berjalan bersama, saling menguatkan menyusuri jalan hidup kita menuju tujuan tertinggi dalam hidup ini, keridhaan Allah. Bimbinglah aku karena dirimu adalah qawwam bagiku. Kumohon kita berikrar bersama menjadikan syariat Allah sebagai neraca setiap persoalan yang kita hadapi, mabda Islam sebagai solusi. Keserhanaan kuharap menjadi perhiasan hidup kita, kebahagiaan bukan diukur dengan materi bukan ? Cukuplah iman sebagai dinding istana cinta kita.

Tentang anak-anak, kuberharap ketujuh putra-putri kita menjadi mujahid dan mujahidah penegak dan penjaga syariah. Tentu bukan hal yang mudah untuk mewujudkannya. Tetapi aku berusaha dengan dukunganmu akan membesarkan mereka dengan sepenuh cinta dan kasih sayang, menanamkan iman, mengkristalkan kepribadian Islam dalam diri mereka. Sedikit demi sedikit kini aku sedang belajar : bagaimana mendidik mereka?

Tentang keluarga besar kita. Kuingin dirimu mampu menjadi abang bagi kedua adikku, mampu menjadi “Rudy Rafana” (impian ayah dan ibu mempunyai putra sulung meski mereka ikhlas dengan kelahiranku). Sangat besar harapan yang dibebankan ayah, ibu dan segenap keluarga kepadamu. Kuharap aku pun diterima dengan baik di keluargamu. Kudamba pernikahan kita membawa berkah dalam kehidupan dan masa depan kita selanjutnya. Cinta, aku kan sabar menantimu. Kupercaya pada janji-Nya.

Aku yang menunggumu,

Rheiy

*****

Bumi Allah, 17 Rajab 1427 H

Kepada Imam, mujahid, qawwam sejatiku,

Seseorang menggangguku lagi melalui email. Siapakah gerangan dia ? Aku menduga dia adalah engkau. Benarkah itu dirimu, Cinta……??? Kuserahkan segalanya pada Allah.

By the way, pemuda Kahfi, Cintaku. Bila dan dimanakah kita akan bersua…..???

Dunia ataupun akhirat sama saja bukan……? Bila kita dipertemukan Allah di dunia, maka kita akan menempa putra-putri kita menjadi pejuang, prajurit Shalahuddin Al-Ayyubi kedua yang akan membebaskan Al-Aqsha, tentara Muhammad Al-Fatih kedua yang akan membebaskan Ruum. Inilah perjanjian kita. Pernikahan untuk menyempurnakan agama.

Pun seandainya kita bersua di Jannah-Nya, bukankah itu pun juga anugrah tiada tara bagi kita. Aku akan bersabar menetapi jalan ini. Aku yakin dan percaya pada janji Rabb kita, sesungguhnya dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, maka akan mendapat naungan dimana pada hari itu tidak ada naungan.

Demi segala cinta,

Rheiy

*****

Kemarin aku belajar bikin roti tapi hasilnya……? Rotinya bantat dan seperti biasa, mama jadi marah meski tidak sampai membuang rotinya. Hatiku rasanya sedih waktu beliau mengungkit betapa masih tidak becusnya aku bekerja di dapur. “Gimana nanti masak buat suami ?! Gimana nanti ngatur keuangan ?!” Akhir-akhir ini aku jadi sensi mendengar pernikahan. Pas ke Pasar kemarin ketemu temanku yang udah punya anak, trus berita pernikahan teman……… Waa….. aku juga jadi pengen cepat nikah……! Apalagi waktu mama bilang……. siapa tau dalam lima ato enam bulan ke depan ada walimahan. Aku merasa tersindir.

*****

28 Rajab 1428 H

Kepada Imam dan Mujahidku,

Apa kabar kabarmu, wahai Cinta ?

Aku menangis hari ini, betapa tidak setia dan sabarnya diriku menantimu dan menetapi jalan ini untuk menyongsong janji Allah. Aku sakit hati? Memang Allah telah memilihkan dirimu sebagai jodoh terbaik untukku…. Sakit memang menerima sms dari istrinya. Walau aku juga bisa rasakan sakit hati istrinya.

Dia yang pernah ingin mengkhitbahku. Aku mengerti dia tidak pernah bermaksud menyakiti hatiku. Meski karena sikapnya aku jadi terluka. Dan kini luka itu tersayat lebih dalam ketika istrinya memarahiku begitu rupa, menyebutku bajingan, monyet, maling….. Apakah salah jika aku bertanya kepadanya ? Setelah sekian lama aku menunggu khitbahnya. Email yang kukirimkan padanya tidak berbalas. Ternyata dia baru saja menikah dengan seorang gadis di kota tempatnya ditugaskan.

Cinta, semoga aku sabar dan tidak melenceng lagi dari janji kita. Dan aku tetap komit dengan tekad dan janjiku. Dimanapun kini dirimu, aku mencintaimu dan kuharap mampu bertahan di tengah segala godaan. Cinta…….. betapa aku merindukanmu……… wahai Pemuda Kahfi….. wahai Mujahid……… wahai Qawwam sejatiku………

Anak-anakku yang manis, betapa aku merindukan kalian.

Yaa Rabb, sebelum kuhembuskan nafas terakhir aku ingin melahirkan, mengasuh, merawat dan mendidik mereka dalam mahligai cintaku yang sederhana. Apakah aku telah benar-benar siap menikah ? Bagaimana dengan putra-putriku nanti ? Bagaimana aku mendidik mereka? Bisakah aku sabar terhadap mereka ? Cintaku, imamku, mujahidku, aku rindu memeluk ketujuh putra-putriku, Muhammad Shalahuddin Abdullah Al Ayyuby, Muhammad Abdurrahman Al Fatih, Muhammad Hanif Al Ghiffary, Muhammad Yahya Radhiyan, Naylaa dan Aminah serta Muhammad Fauzan Hamidy. Cinta, aku bahkan telah mempersiapkan nama untuk mereka.

Duhai mujahidku, semoga aku benar-benar bisa bersabar mempersiapkan diri menjadi istri sejati agar nantinya kedatanganmu disambut dengan keikhlasan. Duhai Allah, kabulkanlah.

Rheiy

*****

Agustus 2007

Diary,

Ini adalah dua sms yang dikirim Mbak Ety padaku :

Cint mngaliri stiap bgian tubuh. Alirannya bgerak trus&trus. Tiada henti. Mbawa bahgia, duka, pngorbann, mbawa apapn nmn tak lpas dr cint. Cint tcrmin dlm bingkai wajah damai. Tkdang cint bgjolak spt smudra. Adakalanya cint ibarat tlaga. Sunyi..mndsir..bsama k kdamaian. Bgm dg cint qt pd 4llj?’ dikirim 11:31:42

Maka ketika pun keinginan/cita2/impian qt tdk terwujud. Diri qt terus bersujud pasrah tanpa syarat. Karena sejatinya, qt bukan milik qt.’ dikirim 19:45:17

Seakan beliau mengerti kegelisahanku, padahal aku tidak bercerita pada beliau. Ternyata jarak yang berjauhan tidak membuat persahabatan dan ikatan batin antara kami pudar. Mbak Ety, aku mencintaimu.

*****

3 September 2007

Diary,

Pagi-pagi aku terima sms yang menghebohkan, Neng Lidya menikah. Ngiri ??? Ah, enggak kok, dia emang udah siap, udah matang. Walaupun dia lebih muda dan masih kuliah. Tidak seperti diriku, masih banyak kekurangan dan masih belum siap memikul tanggung jawab sebesar itu. O,ya mereka menikah tanggal 9 September ini.

Sebentar lagi Ramadhan menjelang…… Berarti usiaku bertambah satu. Hmm….. Cinta, aku berharap…….. Ah, tidak….. dia akan datang di saat yang tepat dan segalanya menjadi mudah dan indah….

Ayolah, Rheiy, siapkan dirimu menyambut Ramadhan !

*****

Oktober 2007

Diary,

Masih ingat dengan Iyan ? Temanku yang dulu memintaku menjadi comblang untuk mengkhitbah Rina, namun aku tolak dan sarankan agar dia dicomblangi dengan teman lain yang sudah menikah. Kemarin dia katakan menunda dulu pernikahan karena masih belum cukup tabungan.

Tahu sendiri kan? Untuk menikah di KUA perlu duit. Dan walimahan ? Biayanya lebih besar lagi bisa berjuta-juta dihabiskan untuk menjamu tamu, tapi biasanya biaya paling besar untuk baju dan rias pengantin …….. Dan bahkan biasanya rela berhutang sana-sini bahkan kredit di Bank agar pesta walimahannya ”Wah” dan tidak jadi gunjingan masyarakat. Aneh memang, jaman sekarang orang sangat senang membanding-bandingkan besarnya mahar dan mewahnya jamuan walimahan.

*****

Nopember 2007

Dalam perjalanan yang sunyi ini, kesabaran adalah teman terbaik. Keyakinan pada janji Allah dalam surah an-Nuur ayat 26. Tetesan air mata menemani tahajudku di akhir malam ini, hilang sudah segala gundah. Seperti kata Kak Iffa, mungkin Allah masih ingin menambahkan pahala sabar kepada kita. Sabar atas penantian dan sabar terus memohon kepada-Nya dalam bait-bait do’a.

Maka ni’mat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan ? sebanyak 31 kali Allah tanyakan dalam surah ar-Rahman. Kubaca lirih surah favoritku itu, inilah senandung Cinta paling merdu. Cinta yang tertinggi dan abadi dan tidak akan pernah mengecewakan.

*Terinspirasi dari seorang sahabat

(ditulis oleh Reda Ari Yantie

Komentar bertahan »

OBITUARI 1000

Hitomi Chan

 

Bau, kucel, lecek, koyak sana-sini, ditambah kerut-merut dan noda-noda tak sedap dipandang mata. Rasanya, baru kemarin tubuhku masih mengkilat dan bila kau tak hati-hati menjamahkuku, sisi-sisiku nan kesat dan tajam mampu membuat jari-jemarimu tersayat, lecet bahkan berdarah.

Ah, waktu… Tak terasa, hari ke hari, tangan ke tangan, mendekam dalam berbagai kotak kayu yang memiliki aroma tersendiri. Besok bau ikan segar, nanti bau bakso, lusa bau apek. Sempat pula merasakan harus terselip, terlipat-lipat di dalam saku baju, saku celana… Ugh….pengap ! Ternyata nasibku sulit beralih ke tempat yang nyaman. Dengar-dengar dari pengalaman temanku yang pernah berbaring nikmat, selonjor berselimut hawa pendingin ruangan…begitu nyaman. Ada juga yang pernah berlama-lama dalam dompet-dompet wangi. Hingga aku tak sanggup membayangkan karena semakin terbayang, ternyata semua itu hanya impian.

Ugh ! Kini tubuhku kembali terlipat-lipat setelah sekian lama menggumpal dalam sebuah kantong kain perca bersama teman-teman senasib. Tiba-tiba… kantong kain pun berguncang, bergoyang…. sebuah tangan mungil merogoh isi kantong ini. Ups ! Ternyata tangan mungil itu menggenggamku. Igh ! Tangan ini !! Walaupun mungil, namun dekil, hitam dan penuh bekas ingus mengering.

”Tole sudah ambil uangnya, Bu !” seru anak itu dan diriku ada dalam genggamannya. Ugh…hancur rasanya tubuhku.

”Tet tot tet tot tet tot !” klakson penjual pentol terdengar nyaring di depan gang.

”Bang !! Beli, Bang !” Tole berteriak-teriak dari dalam rumah lalu berlari keluar dan…”Brak !” tak sengaja kaki kecilnya menyepak dingklik yang menahan pintu dari luar agar tetap terbuka. Tubuhku hampir saja terlepas dari genggamannya.

”Hati-hati, Le !” tegur Yu Marni – ibu Tole, dengan logat Jawa Timurannya, sembari terus mengucek pakaian yang tengah ia cuci di ruang belakang yang sekaligus menjadi tempat mandi, mencuci baju juga pecah belah. Aku tadi sempat mengintip dari sela jari jemari Tole bila rumah mereka ternyata tak punya kamar, hanya sekat sederhana antara ruang depan dan ruang tidur, lalu di belakang untuk mandi, buang air besar dan mencuci.

Kini, Tole terus menggenggamku dengan erat. Terengah-engah ia berlari menyusul penjual pentol dan aku semakin kisut dalam genggamannya.

”Brak !” Kali ini aku benar-benar terlepas dari genggaman Tole. Tubuhku terlempar ke atas batako yang disusun rapi sebagai jalan umum di gang sempit itu. Angin membelai lembut permukaan tubuhku. Perlahan aku meregangkan tubuhku yang kumal, tergumpal dan agak lembab ini. Ah, betapa segarnya alam raya.

Sungguh aku tak peduli Tole tengah menangis tersedu. Aku pun tak peduli ternyata Tole dibawa para tetangga berobat ke bapak mantri. Yang kutahu, seisi gang tengah memaki Warno, pemuda berandal itu, karena telah menyerempet Tole dengan motor bututnya yang bunyinya berisik dengan knalpot bak lokomotif. Asap knalpot mengepul dengan hebatnya.

Bau, kucel, lecek, penuh noda tak sedap dipandang mata dan terkoyak pada sisi-sisi tubuhku. Nasib ah nasib…Namun, liukan angin mampu membuatku terbang menari-nari.

”Hup !” Ah… lagi-lagi aku jatuh dalam genggaman seseorang. Masih tangan mungil, namun lembut, bersih dan wangi beraroma minyak kayu putih. Siapa gerangan ?

”Ibu !! Uang seribuan ini Nana temukan di jalan !” Oh, nama gadis kecil itu Nana. Nana berseru riang sembari melambai-lambaikan tubuhku ke arah seorang wanita muda. Pasti itu ibunya.

”Masukkan ke celengan masjid saja ya, Na ! Buat jajan, nanti ibu kasih lagi.” Aku melihat roman wajah wanita muda itu. Ia bergidik dan terlihat jijik melihat tubuhku. Aku pasrah.

Nana memandangiku. Mata lugu itu nampak berat hati melepaskanku. Aku tahu, ia bukannya tak rela memasukkanku ke celengan masjid.

”Lecek, dekil, bau. Masak duit begini dimasukkan ke celengan masjid ?” gerutu gadis kecil itu. ”Giliran yang jelek-jelek, yang robek-robek disumbangin…Hmmh, aneh !”

Tangan mungilnya mulai meluruskan tubuhku. Ia usap, elus dan merapikan koyakan pada sisi-sisiku. Dalam diam, dalam hening. Hanya helaan napasnya yang terdengar. Lalu ia termenung memandangiku yang telah terbaring rapi di atas meja belajarnya. Ah, aku merasa seperti bangkai hewan peliharaan kesayangannya, yang harus menelan masalah majikanku bulat-bulat karena kebingungan mencari tempat yang tepat untuk menguburku.

Sisi-sisi badanku tiba-tiba bergantian terangkat. Dingin. Lagi-lagi angin mengajakku bermain. Mengajakku berlari. Padahal aku baru saja merasakan nikmatnya atmosfer kamar Nana yang begitu rapi dan wangi.

”Hey !!!” Nana berteriak saat angin menyeretku pergi melalui jendela kamarnya. Mengangkatku…. Terbang. Pergi. Jauh. Tinggi.

[inspired by FTV ’memori duit lecek’-nya Nafiis; thanks for Lee Yong Jay untuk beres** t4 tidur dan ngisi bak mandi-drpd gangguin ana ngetik !!!]

 

Komentar bertahan »

PEMANASAN GLOBAL DAN SOLUSI TUNTASNYA

Iklim, kacau !

Iklim sekarang sudah tidak menentu, pemanasan global telah menghampiri kita. Menurut Laporan Badan Meteorologi Dunia (WMO) disebutkan bahwa suhu bumi pada 2006 meningkat 0,420C di atas rata-rata 1961-1990. Suhu di tahun itu merupakan suhu terpanas ke-6 dalam sejarah kehidupan di bumi.

Di tahun ini IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) mengeluarkan laporan dari tiga kelompok kerja. Laporan tersebut secara tegas menyebutkan “tidak ada keraguan akan masalah perubahan iklim; memastikan bukti-bukti dari perubahan iklim dengan yakin; skala dan percepatan dari dampaknya terhadap kehidupan manusia dan ekosistem akan sangat tinggi; menghindari perubahan iklim ekstrim dapat dilakukan dengan bantuan teknologi dan ekonomi namun waktu untuk bertindak tidak banyak”

Penyumbang emisi karbon

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, besar atau kecil pastinya tetap menyumbang emisi karbon bagi bumi ini. Beberapa bulan lalu Organisasi Pangan dan Pertanian melansir sebuah hasil riset yang menempatkan Indonesia sebagai perusak hutan tercepat di dunia. Laju kerusakan hutan kita, menurut data itu, adalah 2 persen atau 1,87 juta hektar per tahun. Dengan kata lain, 51 kilometer persegi hutan kita rusak setiap hari atau 300 kali lapangan sepak bola setiap jam!

Nah, dengan rusaknya hutan tropis Indonesia, baik akibat pembalakan liar maupun kebakaran hutan pastinya akan menambah jumlah karbondioksida (CO2) di udara. Bertambahnya konsentrasi CO2 ini jelas akan meningkatkan rata-rata suhu bumi. Masih menurut perhitungan para ahli, secara kasar, rata-rata suhu udara di dekat permukaan bumi meningkat sebesar 0,74 derajat Celcius selama satu abad terakhir.

Tidak hanya Indonesia dan negara berkembang lainnya yang menyumbang emisi karbon, Negara maju pun demikian. Emisi GRK terbesar justru dihasilkan oleh negara-negara kaya seperti Amerika Serikat (AS). Satu orang AS menghasilkan efek emisi sebanding dengan 17 orang Maladewa, 19 orang India, 30 orang Pakistan, 49 orang Sri Langka, 107 orang Bangladesh, 134 orang Bhutan dan 269 orang Nepal. (Firdaus Cahyadi, 2007)

Emil Salim memaparkan, antara tahun 1994 dan 2004 jumlah emisi karbon dioksida di negara maju, kecuali Jerman, Polandia, Rusia, naik 88 persen. Bisa kita ketahui semua negara, maju maupun berkembang sama-sama menjadi penyumbang emisi karbon, cuma berbeda dari sisi besar dan kecilnya saja.

Dampak Pemanasan global

Dengan menggunakan model dari IPCC, Indonesia akan mengalami kenaikan dari temperatur rata-rata dari 0,10 – 0,30C per dekade. Kenaikan suhu ini akan berdampak pada iklim yang memengaruhi manusia dan lingkungan sekitarnya, seperti kenaikan permukaan air laut dan kenaikan intensitas dan frekuensi dari hujan, badai tropis, serta kekeringan.

Para petani di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya kini ramai mengeluhkan siklus musim yang mulai berubah. Hujan yang diharap-harap turun, malah berganti dengan kemarau berkepanjangan, demikian sebaliknya. Meningkatnya suhu bumi dipercaya berkontribusi besar pada kenaikan permukaan air laut. Mengapa? Pertama, naiknya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan mencairnya daratan es di Kutub Utara dan Selatan. Majalah Time (edisi 1 Oktober 2007) memperlihatkan, lapisan es di Kutub Utara menyusut lebih dari 20 persen dalam 25 tahun terakhir. Pencairan es ini akan terus berlangsung hingga tinggal sekitar 20 persen pada 2040. Saat itu Indonesia diestimasikan kehilangan lebih dari 2.000 pulaunya yang tenggelam. Kedua, suhu lautan yang meningkat akan memicu pemuaian massa air laut.

Menurut perhitungan, sejak 3.000 tahun lalu hingga awal abad ke-19, peningkatan permukaan air laut berjalan konstan sebesar 0,1-0,2 mm per tahun. Namun, sejak 1900, permukaan laut meningkat 1-2 mm per tahun. Perhitungan lebih akurat dihadirkan oleh satelit Poseidon milik AS pada 1993. Saat itu diketahui permukaan laut meningkat sebesar kurang lebih 3,1 mm per tahun.

Angka ini tak boleh dianggap enteng. Dengan laju peningkatan saat ini, maka permukaan air laut pada 2100 akan meningkat sebesar 280-340 mm dari level 1990. Ini artinya peta dunia harus digambar ulang. Sebagian Kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku akan tenggelam. Di AS, semenanjung Florida dan Manhattan, yang amat terkenal dengan tumpukan pencakar langitnya, tenggelam. Sementara negara-negara kepulauan kecil seperti Maladewa, termasuk negara-negara kecil lainnya di Pasifik, tinggal sejarah.

Usaha penanggulangannya

Kondisi di atas mulai direspon oleh para pemimpin dunia terutama di kawasan Asia Timur dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur di Singapura menjadikan isue pemanasan global sebagai pembahasan utama. Para pemimpin Asia Timur yang terdiri dari 10 negara ASEAN ditambah China, Jepang, Korea Selatan, Australia, India, dan Selandia Baru itu menandatangani “Deklarasi Singapura untuk Perubahan Iklim”. Deklarasi itu intinya menyerukan kepada 16 negara untuk berperan aktif mewujudkan cetak biru lingkungan yang baru, menggantikan Protokol Kyoto yang akan habis masa berlakunya tahun 2012.

Protokol Kyoto menetapkan target batasan emisi bagi negara-negara maju. Namun, negara adidaya seperti AS serta Australia menolak meratifikasinya dengan alasan, India dan China yang tercatat sebagai kontributor polusi terbesar di dunia tidak dikenai target itu hanya karena keduanya digolongkan sebagai “negara berkembang”. (Kompas, Kamis 22 November 2007).

Memang, saat ini dunia terbagi menjadi negara maju dan berkembang, namun dari sisi upaya untuk mengatasi pemanasan global ini harus melibatkan semua negara. Sungguh akan sia-sia ketika hanya sebagian negara yang mau untuk mengurangi emisi karbon, namun sebagian negara lain terus menerus menambah emisi tersebut, pasti hasilnya tetap nol besar.

Sungguh sangat disayangkan, mengapa kesadaran untuk mengurangi emisi karbon di negara maju masih rendah bahkan ada yang enggan meratifikasi protokol Kyoto ? Menjadi tanda tanya besar, apa sebenarnya yang mereka inginkan ? Belum cukupkah berbagai bencana alam yang terjadi saat ini menyadarkan mereka ?

Kalau kita perhatikan Indonesia melalui presiden SBY, mulai membangun kesadaran di tengah masyarakat pentingnya menanam pohon sebagai salah satu upaya mengurangi emisi karbon. Namun pertanyaannya, cukupkah hanya sekedar menanam pohon ????

Sistemnya yang harus dirubah !!

Apa yang terjadi saat ini tentunya tidak terlepas dari sistem atau ideologi yang diemban oleh masing-masing negara,baik negara maju dan berkembang. Kita tahu bahwa saat ini ideologi yang berkuasa adalah ideologi Kapitalis/Sekuler, menurut pandangan kapitalis menganggap bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, karenanya untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sangat banyak saat ini memerlukan Sumber Daya Alam (SDA) yang banyak pula. Industrialisasi adalah jawabannya, apalagi negara berkembang dengan jumlah penduduknya yang besar menjadi pasar yang sangat menguntungkan untuk memasarkan hasil industri negara-negara maju.

Kita juga paham watak ekonomi kapitalis sesuai dengan prinsip ekonomi yang sangat mashur “dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”, menjadikannya melupakan atau tidak memperhatikan dampak lingkungan (sisi ekologis) yang akan timbul akibat terus dikeruknya SDA.

Negara-negara maju (mereka dengan ideologi kapitalisnya) tidak hanya mengeruk SDA yang ada di negeri mereka, namun mereka dengan mudahnya mengeruk kekayaan SDA di negara berkembang. Dengan modal mereka yang besar ditambah rendahnya kepekaan pemimpin di negara berkembang bahwa SDA yang ada harusnya untuk rakyat, menjadikan terus-menerusnya alam “diperkosa” dan yang tertinggal hanya kerusakan dan berujung pada bencana. Di Irian : Freeport dikuasai oleh AS, Di Cepu : tambang minyak yang besar tersebut dikuasai oleh Exxon Mobil yang notabene juga AS, bahkan yang terdekat adalah tambang intan Galuh Cempaka yang juga dikuasai oleh asing.

Telah jelas kapitalisme, hanya berujung pada kehancuran. Sudah tiba saatnya kita kembali kepada Ideologi Islam yang pasti akan membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Islam yang tidak hanya mengatur masalah hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga hubungan manusia dengan lingkungannya, sehingga tidak hanya sisi ekonomis yang dipikirkan, namun sisi ekologis juga menjadi hal yang penting untuk di jaga.

Dalam Islam SDA di ambil hanya sebatas keperluan manusia, tidak diambil dengan serakah. Yang mengelolanya pun negara bukan individual sehingga bukan keuntungan yang dikejar. Nah, apalagi yang harus kita tunggu, Sekarang lah saatnya Khilafah Islam yang merupakah bentuk pemerintahan Islam memimpin Dunia.

                                                                                                        Adibah S.Hut

 

Komentar (4) »

Climate Change, Bumi Dibawa Ke Mana ???

Tanggal 3-14 Desember 2007 Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Conference of Parties (COP) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Konferensi tentang perubahan iklim yang diselenggarakan di Bali tersebut terkait dengan upaya untuk menjaga kelestarian hutan, adaptasi peningkatan tinggi air laut dan perubahan iklim. Cooking the climate, laporan Greenpeace menunjukkan penghancuran lahan gambut Indonesia menyumbang 4% keseluruhan emisi tiap tahun. Perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan global telah diperingatkan dalam tema hari Lingkungan Hidup sedunia 5 Juni lalu : Melting Ice-A HotTopic!

Perubahan iklim (climate change) sebagai dampak lanjutan pemanasan global telah menyebabkan seringnya terjadi badai yang tidak lazim, pencairan lapisan es kutub sehingga tinggi air laut meningkat dan mengancam tempat berlokasi rendah, kekeringan dan anomali pergeseran musim. Pemanasan global yang umum disebut efek rumah kaca disebabkan perubahan komposisi atmosfer bumi yang salah satunya karena pelepasan emisi karbon ke udara. Ketika panas dari sinar matahari terjebak di bumi, suhu rata-rata permukaan bumi meningkat maka mencairlah lapisan es lalu level permukaan laut semakin tinggi dan pulau-pulau pun tergenang sehingga mengancam kota-kota di pesisir di seluruh dunia termasuk Banjarmasin.

 

Dampak perubahan iklim yang dirasakan secara luas oleh masyarakat dunia baik negara maju, berkembang dan miskin serta mengancam keberlangsungan hidup jutaan orang. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di udara sebagian besar akibat aktivitas manusia terutama industri. Hegemoni Kapitalisme yang mendominasi eksploitasi lingkungan hidup tak bijak dalam mengelola sumber daya alam sehingga menyisakan kemiskinan dan keterbelakangan pada mayoritas penduduk bumi, namun segelintir lainnya menguasai dan menikmatinya dengan begitu serakah. Contoh terdekat yang bisa kita lihat adalah bagaimana masyarakat menderita akibat debu-debu emas hitam tanpa merasakan peningkatan kesejahteraan. Pengusaha pun tidak mau berkurang keuntungan yang mereka dapatkan sehingga mengabaikan reklamasi lahan bekas pertambangan. Hutan-hutan Meratus yang dulunya hijau kini pun telah rusak dan gundul akibat aktivitas penambangan. Sementara tak bijak jika kita menyalahkan masyarakat miskin dan lapar sering merusak lingkungan sekitar mereka untuk mempertahankan hidup. Ketidakadilan distribusi penguasaan sumber daya alam ini sebagai basis konflik sosial yang nyata terjadi dalam kehidupan rakyat.

 

Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi konsentrasi gas karbondioksida sebagai pemicu pemanasan global, diantaranya penanaman pohon yang terus digiatkan. Luas kawasan hijau harus tetap dipertahankan karena pepohonan akan menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Upaya individual saja seperti menanam pohon di lingkungan tempat tinggal, menjaga kebersihan lingkungan baik sistem drainase atau pengelolaan sampah serta pemakaian sepeda untuk perjalanan jarak dekat agar mengurangi penggunaan bahan bakar yang akan menambah gas karbondioksida, tidaklah cukup namun juga adanya upaya komunal dan regulasi pemerintah. Perlu ada keinginan untuk mengubah persepsi individu sehingga tumbuh kesadaran untuk terus menjaga lingkungan sehingga tidak ada lagi sampah berserakan dan pohon yang tidak terawat. Paradigma pengelolaan sumber daya alam yang berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan dan menyebabkan perubahan iklim juga harus diubah, bahwa kekayaan alam yang melimpah merupakan amanah dari Allah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi, oleh karena itu selayaknya pula manusia mengatur pengelolaannya berdasarkan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Ruum : 41).

Reda Ari Yantie

*Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Amuntai

Komentar bertahan »

YANG BEDA DARI DEMOKRASI

YANG BEDA DARI DEMOKRASI

Demokrasi adalah kata yang sudah sangat nyaman dan aman untuk digunakan. Anak kecil saja, sudah tau. Walaupun mungkin tidak sepaham orang dewasa dalam hal memaknainya. Indonesia juga merupakan negeri yang menerapkan demokrasi. Keberhasilan Indonesia dalam menerapkan demokrasi telah membuahkan medali. Medali demokrasi ini diberikan oleh IAPC sebagai negara pertama berpenduduk mayoritas muslim dan melakukan proses demokrasi dengan sungguh-sungguh.

Suksesnya penyelenggaraan pemilu 2004 juga mengantarkan Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelengaraan pertemuan IAPC untuk mempromosikan demokrasi di seluruh dunia. Sehingga anggapan bahwa Indonesia sebagai negara paling demokratis dianggap sebagai sebuah prestasi di tengah-tengah problematika permasalahan bangsa ini. Padahal sukses tidaknya sebuah negara tidak bisa hanya dilihat dari pemilu yang demokratis. Masalah dibalik pemilu yang demokratis masih membayangi, sebut saja kemiskinan, korupsi di mana-mana, disintegrasi bangsa dan lain sebagainya.

Saat demokrasi dijadikan sebuah sistem, tema dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat menjadi keharusan. Namun pada saat sistem ini diberlakukan pada negeri kaum muslim, seharusnyalah kaum muslim memperhatikan lebih mendalam ide-ide yang bukan berasal dari Islam. Apakah dia bisa dipakai ataukah bertentangan dengan Islam dan tidak bisa digunakan.

Kaum muslimin juga bisa melihat kontradiksi demokrasi dan Islam dari segi ; sumber kemunculan, aqidah yang dibangunnya, pandangan tentang kedaulatan dan kekuasaan, juga prinsip mayoritas.

Sumber kemunculan demokrasi adalah manusia. Dalam demokrasi, yang menjadi pemutus (al haakim) untuk memberikan penilaian terpuji atau tercelanya benda yang digunakan manusia dan perbuatan-perbuatannya, adalah akal. Para pencetus demokrasi adalah para filosof dan pemikir di Eropa, yang muncul tatkala berlangsung pertarungan sengit antara para kaisar dan raja di Eropa dengan rakyat mereka. Dengan demikian, jelas bahwa demokrasi adalah buatan manusia, dan bahwa pemutus segala sesuatu adalah akal manusia.

Sedangkan Islam sangat bertolak belakang dengan demokrasi dalam hal ini. Islam berasal dari Allah, yang telah diwahyukan-Nya kepada rasul-Nya Muhammad bin Abdullah SAW. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanya berupa wahyu yang diwahyukan.” (Qs. an-Najm [53]: 3-4).

Adapun aqidah yang melahirkan ide demokrasi, adalah aqidah pemisahan agama dari kehidupan dan negara (sekularisme). Aqidah ini dibangun di atas prinsip jalan tengah (kompromi) antara para rohaniwan Kristen –yang diperalat oleh para raja dan kaisar dan dijadikan perisai untuk mengeksploitir dan menzhalimi rakyat atas nama agama, serta menghendaki agar segala urusan tunduk di bawah peraturan agama– dengan para filosof dan pemikir yang mengingkari eksistensi agama dan menolak otoritas para rohaniwan.

Aqidah ini tidak mengingkari eksistensi agama, tetapi hanya menghapuskan perannya untuk mengatur kehidupan bernegara. Dengan sendirinya konsekuensi aqidah ini ialah memberikan kewenangan kepada manusia untuk membuat peraturan hidupnya sendiri.

Ide sekularisme hanya dikenal oleh masyarakat Barat yang kafir, dan hanya tepat ditujukan bagi agama-agama yang hanya mengatur urusan ritual (hubungan peribadatan). Sedangkan ajaran Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual (ibadah mah’dho), melainkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik peradilan, ekonomi, keuangan, politik, negara, militer, sosial, pendidikan, hubungan luar negeri dan lain-lain.
Dengan demikian, jika ide sekularisme diterapkan dan dipaksakan atas kaum muslimin, hal itu sama saja dengan membuang sebagian besar hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan ekonomi, keuangan, politik, negara, sosial, pendidikan, militer, politik luar negeri dan lain-lain.Lalu akan dikemanakan ribuan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang menyinggung hukum-hukum tentang ekonomi, politik, sosial, pendidikan, militer, dan sejenisnya? Bukankah, al-Qur’an dan as-Sunnah diturunkan kepada umat manusia untuk diterapkan, bukan sekedar dibaca berulang-ulang?.Hal ini sama artinya dengan memasung ajaran Islam dan kaum muslimin hanya dalam perkara-perkara ubudiyah saja, serta menyamakan ajaran Islam dengan ajaran agama lain.
Dengan demikian di da­lam sistem Islam tidak ada ruang berfikir sekuler, yakni berfikir bahwa agama itu terpisah dari negara. Sebab, berfikir parsial tentang Islam berarti mengimani sebagian dan sekaligus meng­kufuri sebagian lain. Hal ini dila­rang keras di dalam ajaran Islam. Allah SWT berfirman:

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenista­an dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikem­balikan kepada siksa yang sa­ngat berat. (QS. Al Baqoroh 85)..

Sedangkan Islam, sangatlah berbeda dengan Barat dalam hal aqidahnya. Islam dibangun di atas landasan Aqidah Islamiyah, yang mewajibkan pelaksanaan perintah dan larangan Allah –yakni hukum-hukum syara’ yang lahir dari Aqidah Islamiyah– dalam seluruh urusan kehidupan dan kenegaraan. Aqidah ini menerangkan bahwa manusia tidak berhak membuat peraturan hidupnya sendiri. Manusia hanya berkewajiban menjalani kehidupan menurut peraturan yang ditetapkan Allah SWT untuk manusia.

Kemudian demokrasi menetapkan bahwa rakyatlah yang memiliki dan melaksanakan kehendaknya, bukan para raja dan kaisar. Rakyatlah yang menjalankan kehendaknya sendiri.

Berdasarkan prinsip bahwa rakyat adalah pemilik kedaulatan, pemilik dan pelaksana kehendak, maka rakyat berhak membuat hukum yang merupakan ungkapan dari pelaksanaan kehendak rakyat dan ungkapan kehendak umum dari mayoritas rakyat. Rakyat membuat hukum melalui para wakilnya yang mereka pilih untuk membuat hukum sebagai wakil rakyat. Kekuasaan juga bersumber dari rakyat, baik kekuasaan legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.

Sementara itu, Islam menyatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan syara’, bukan di tangan umat. Sebab, Allah SWT sajalah yang layak bertindak sebagai Musyarri’ (pembuat hukum). Umat secara keseluruhan tidak berhak membuat hukum, walau pun hanya satu hukum. Allah SWT berfirman: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (Qs. al-An’aam [6]: 57).

Dalam hal kekuasaan, Islam menetapkan bahwa kekuasaan itu ada di tangan umat Islam. Artinya, bahwa umat memiliki hak memilih penguasa, agar penguasa itu dapat menegakkan pelaksanaan perintah dan larangan Allah atas umat.

Prinsip ini diambil dari hadits-hadits mengenai bai’at, yang menetapkan adanya hak mengangkat Khalifah di tangan kaum muslimin dengan jalan bai’at untuk mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa mati sedang di lehernya tak ada bai’at (kepada Khalifah) maka dia mati jahiliyah.” [HR. Muslim].

Sedangkan dalam prinsip mayoritas, demokrasi memutuskan segala sesuatunya berdasarkan suara terbanyak (mayoritas). Sedang dalam Islam, tidaklah demikian. Untuk masalah yang berkaitan dengan hukum, yang menjadi kriteria adalah kekuatan dalil, bukan mayoritas. Ini bersandarkan pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Kemudian untuk masalah yang menyangkut keahlian, kriterianya adalah ketepatan atau kebenarannya, bukan suara mayoritas. Peristiwa pada perang Badar merupakan dalil untuk ini. Sedang untuk masalah teknis yang langsung berhubungan dengan amal (tidak memerlukan keahlian), kriterianya adalah suara mayoritas. Peristiwa pada Perang Uhud menjadi dalilnya.

Selain itu, dalam demokrasi dikenal ada empat kebebasan, yaitu:

a. Kebebasan beragama (freedom of religion)

b. Kebebasan berpendapat (fredom of speech)

c. Kebebasan kepemilikan (freedom of ownership)

d. Kebebasan bertingkah laku (personal freedom)

Ini bertentangan dengan Islam, sebab dalam Islam seorang muslim wajib terikat dengan hukum syara’ dalam segala perbuatannya. Tidak bisa bebas dan seenaknya. Terikat dengan hukum syara’ bagi seorang muslim adalah wajib dan sekaligus merupakan pertanda adanya iman padanya. Allah SWT berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. an-Nisaa’ [4]: 65).

Sudah saatnya kaum muslimin menolak ide yang bertentangan dengan Islam. Hanya kembali pada Islam lah kaum muslimin bisa memperoleh kemenangannya kembali. Dan Islam sebagai rahmatan lil alamin bisa terwujud, sehingga bukan saja kaum muslimin yang bisa menikmatinya namun non muslim pun bisa menikmatinya.

Tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin untuk menerapkan Islam dalam kehidupan kecuali dengan Daulah Khilafah Islamiyah. Saatnya untuk kembali ke pangkuan Khilafah dan meninggalkan demokrasi yang telah jelas kebathilannya. Wallahu’alam bi Showab.

 

 

Nurul jannah

Komentar bertahan »